Wan Adril

Pikir itu Pelita Hati

Bersyukur dan Berharap

Ada seorang Pria buta yang membenci dirinya sendiri karena kebutaannya. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya. Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya dikala dia susah dan senang. Dia berkata akan menikahi kekasihnya hanya jika dia bisa melihat dunia.

Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepadanya sehingga dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasihnya. Kekasihnya bertanya, “Sekarang kamu bisa melihat dunia. Apakah kamu mau menikah denganku?”


Pria itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya ternyata buta. Dia menolak untuk menikah dengannya.

Kekasihnya pergi dengan air mata mengalir, dan kemudian menulis sepucuk surat singkat kepada Pria itu, “Sayangku, tolong jaga baik-baik mata saya itu.”

—–Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan sesudahnya dan lebih sedikit lagi yang ingat kepada siapa dia harus berterima kasih dan kepada siapa dia harus berharap.———-

August 14, 2008 Posted by | Agama | Leave a Comment

Kematian Terindah

Oleh : Muhammad Zaenuri

”Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu (kematiannya), maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mungundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) mengajukannya.” (QS Al-A’raf: 34).

Banyak orang merasa ngeri menghadapi kematian. Padahal, kematian adalah perkara ghaib yang sering kita saksikan dan pasti menjumpai kita. Persoalannya bukan kapan kematian itu datang. Akan tetapi, apa yang telah kita siapkan untuk bekal kematian itu, sehingga kematian yang menjemput tanpa memberi kabar menjadi saat terindah karena pada saat itu kita akan berjumpa dengan Allah SWT.

Kematian yang dianggap mengerikan bagi kebanyakan manusia, justru menjadi saat terindah lagi mengharukan bagi orang bertakwa. Di saat ruhnya keluar dari jasad, saat itu Allah SWT memangilnya dengan lembut, ”Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka, masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.”(QS Al-Fajr: 27-30).

Itulah kematian yang indah. Untuk menemui kematian yang indah itu, Allah SWT berfirman, ”Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul dari kamu yang membacakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barang siapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kehawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Al-A’raf: 35).

Untuk mencapai derajat ketakwaan, Allah SWT mengingatkan dengan firman-Nya, ”Sesungguhnya tiap-tiap kamu ada (malaikat) yang mengawasi pekerjaanmu. Yang diridhai di sisi Allah dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakaan.” (QS Al-Infithaar: 10-12).

Karena senantiasa diawasi, maka kita harus menjaga diri untuk tidak berbuat dosa, baik secara sembunyi maupun terang-terangan dan segera bertaubat jika melakukan khilaf dan dosa. ”Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasanya.” (QS Az-Zalzalah: 7-8).

Sesungguhnya Allah SWT tidak ridha pada kematian seseorang, kecuali matinya dalam keadaan berserah diri (muslim). ”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu dengan sebenar-benarnya takwa dan janganlah kamu mati, kecuali dalam keadaan berserah diri (muslim).” (QS Ali-Imron: 102).

Kematian bagi seorang Muslim bukanlah hal yang mengkhawatirkan. Justru kematian akan menjadi saat yang ditunggu dan dirindukan karena ingin bersegera melihat Tuhan yang selama ini ia sembah, Tuhan yang menciptakan dirinya, dan Tuhan yang memberinya rezeki.

 

 

 

August 14, 2008 Posted by | Agama | , | Leave a Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.